Thursday, 17 November 2016

Kau dan Hujan

Foto kiriman Eka Burhanudin (@eburhany) pada


Sudah terlalu lama kau tak lagi percaya pada hujan. Kau biarkan tetes demi tetes jatuh begitu saja tanpa tegur sapamu. Pun sambutmu. Kau diam membisu dan membiarkannya pilu, sampai dia enggan lagi menghampirimu.


Kau pernah membiarkan hujan menyamarkan air mata yang mengalir bagai peluh tak beraturan di pipimu. Tapi sekarang, kau enggan memberikan alasan sedikit pun untuknya menyembunyikan apa saja yang hendak kau tangisi. Hari-harimu pun seperti padang gurun tandus yang hanya dihuni oleh kalajengking dan serangga pasir. Pada siang hari panas menyengat sarat fatamorgana, sedang malam dingin menggigit kerasnya hawa.. Aku tahu kau sekarat, tapi kau tidak mau membiarkan dunia mengetahuinya. 

Diam-diam aku pun bermuslihat bersama hujan. 

“Dia telah dikhianati,” kataku padanya. “…dan dia tidak ingin siapapun menghiburnya, termasuk kau. Dia mencoba menjadi kuat, tapi sebenarnya hanya sedang menghukum dirinya sendiri.” 

Hujan mengangguk. 

Lalu sampailah kita pada senja ini. 

Hujan kembali hadir. Dia muncul dari balik pasir padang gurunmu, lalu melayang berderai-derai ke langit. Tampak kau kebingungan. Tapi melihat kawan lamamu datang dengan cara tidak biasanya, kau pun tersenyum lalu… tertawa. 

Tertawa terbahak-bahak. 

Kini hujan datang tanpa membuatmu menjadi lemah. 

Kau dan hujan pun bercakap-cakap mesra dan jantungku seperti berhenti berdegup saat hujan membuatmu menolehkan pandangan ke arahku. Ya, aku akan selalu mencintaimu dalam diam .… walau kau tak menyadarinya.



No comments

Post a Comment

© A Mindless Story
Maira Gall