Benarkah dia bisa menyanyikannya ? Sebenarnya aku tidak mengapa jika dia bilang tidak bisa ataupun tidak tahu, tapi karena jawabannya yang ragu seperti itu, aku jadi semakin penasaran. Aku harap suaranya yang merdu itu bisa menghapus bosanku.
When I look into your eyes, I can see a love restrained
But darling when I hold you, don’t you know I feel the same .…
November Rain mengalun dari bibir itu diiringi petikan gitar yang menambah suasana. Boleh juga, gumamku. Aku melirik, di luar masih hujan rintik-rintik. Dan suaranya membuatku enggan untuk beranjak. Aku kembali melayangkan pandang padanya. Pria yang tampan, ditambah suara yang bagus untuk bernyanyi pastilah banyak perempuan yang bermain mata dengannya. Tiba-tiba imajinasiku bergerak liar membayangkan sesuatu. Aku dan dia di suatu tempat, bercumbu. Ahhh! Pikiran wanita lajang yang berumur hampir seperempat abad. Aku tertawa sendiri. Tapi, dia memang tampan.
Kehidupan kuliah disini memang berbeda. Bukan cuma soal budaya dan bahasanya, namun cara pengajarannyapun sangat kontras dibanding Indonesia. Di sini tugas dan semua tes bukan hanya teori. Di jurusanku, mahasiswa dituntut untuk menganalisis sesuatu dan memberikan solusi dengan cepat. Tugas yang mengasah nalar dan argumentasi sudah menjadi makanan pokok bagi para pencari ilmu disini. Jadi bukan hanya sekedar menjawab hal-hal teoritis, tapi juga dengan praktik nyata.
Jika diingat kembali, sepatutnya aku harus bersyukur tentang apa yang aku peroleh saat ini. Membayangkan kuliah di luar negeri saja sudah membuatku bungah, apalagi ditambah bisa masuk jurusan yang aku cita-citakan. Agaknya Tuhan sangat sayang kepadaku. Seolah-olah sempurna sekali jalan hidupku kedepan.
Tapi aku tak boleh lengah, pun juga bermain-main. Aku ingin buktikan kepada para pesaingku dulu, bahwa aku memang pantas untuk mendapat beasiswa ini. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar dapat lulus dengan cepat, karena aku tidak mau berlama-lama dengan bangku kuliah beserta segala remeh-cemehnya. Terlebih aku hanya diberi waktu 4 tahun oleh sponsor beasiswa untuk menyelesaikan kuliah. Jika lewat dari masa itu, aku harus menanggung sendiri segala biaya yang aku keluarkan disini.
We've been through such a long long time
Just tryin' to kill the pain ....
Aku mengeluarkan laptop dan mencoba mengulang kembali apa yang telah disampaikan dosen untuk mempersiapkan kuis mata kuliah Ekonomi Makro besok. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang asing. Dulu aku juga menempuh sarjana yang mata kuliahnya tidak jauh berbeda dengan sekarang. Rasanya seperti bernostalgia dengan Adam Smith beserta teman-temannya. Kami sudah seperti kawan lama.
Ku ulang kembali beberapa materi pokok sambil sesekali mencatatnya dalam selembar kertas. Mungkin tidak terlalu banyak, tapi aku yakin itulah yang kemungkinan akan menjadi soal. Semoga perkiraanku tidak salah.
****
And it's hard to hold a candle
In the cold November Rain ....
Jika diingat kembali, sepatutnya aku harus bersyukur tentang apa yang aku peroleh saat ini. Membayangkan kuliah di luar negeri saja sudah membuatku bungah, apalagi ditambah bisa masuk jurusan yang aku cita-citakan. Agaknya Tuhan sangat sayang kepadaku. Seolah-olah sempurna sekali jalan hidupku kedepan.
Tapi aku tak boleh lengah, pun juga bermain-main. Aku ingin buktikan kepada para pesaingku dulu, bahwa aku memang pantas untuk mendapat beasiswa ini. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar dapat lulus dengan cepat, karena aku tidak mau berlama-lama dengan bangku kuliah beserta segala remeh-cemehnya. Terlebih aku hanya diberi waktu 4 tahun oleh sponsor beasiswa untuk menyelesaikan kuliah. Jika lewat dari masa itu, aku harus menanggung sendiri segala biaya yang aku keluarkan disini.
We've been through such a long long time
Just tryin' to kill the pain ....
Aku mengeluarkan laptop dan mencoba mengulang kembali apa yang telah disampaikan dosen untuk mempersiapkan kuis mata kuliah Ekonomi Makro besok. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang asing. Dulu aku juga menempuh sarjana yang mata kuliahnya tidak jauh berbeda dengan sekarang. Rasanya seperti bernostalgia dengan Adam Smith beserta teman-temannya. Kami sudah seperti kawan lama.
Ku ulang kembali beberapa materi pokok sambil sesekali mencatatnya dalam selembar kertas. Mungkin tidak terlalu banyak, tapi aku yakin itulah yang kemungkinan akan menjadi soal. Semoga perkiraanku tidak salah.
****
Gelasku hampir kosong, rupanya vokal pemuda itu membuatku hilang sejenak. Rasanya semakin malas aku beranjak dari sini. Menyesap macchiato hangat sembari mendengarkan alunan lagu darinya, cukuplah untuk mengusir penatku. Begitu pula hujan tak juga reda, sepertinya ia sangat menikmati waktunya bersetubuh dengan bumi. Gemericik air menambah asik suasana cafe dan lalu lalang kendaraan di jalan menjadi pemandangan.
Lagu ini memang mempunyai kisah tersendiri bagiku. Hujan di Bulan November. Ya, kira-kira begitulah jika dialih bahasakan. Sebuah lagu yang dapat membangunkan memori yang telah lama aku pendam. Makna di dalamnya yang dapat menarikku lebih dalam. Bait-bait lagunya membawaku kembali ketika aku masih di masa kuliah dulu. Seorang lelaki yang kukagumi. Yang telah memberi warna baru di kehidupanku. Membuatku menjadi lebih dewasa seperti sekarang.
But if you could heal a broken heart
Wouldn't time be out to charm you ....
Aku melihat jam di sudut dinding yang menunjukan sekarang pukul 05:01. Sudah lebih 3 jam aku berada di sini. Macchiato-ku juga sudah tak lagi bersisa, demikian hujan yang telah reda beberapa saat yang lalu. Mungkin aku harus pulang. Pikirku. Aku mengemasi barang-barang yang tercecer di atas meja. Laptop, draft, buku, pena, kumasukkan ke dalam tas satu persatu.
"Apa kamu orang Indonesia ?" suara berat itu tertuju padaku.
Aku terkejut. Ternyata si Penyanyi yang bertanya. Dia perlahan mulai menghampiriku. Selangkah demi selangkah, dimana tiap langkahnya semakin membuatku berdebar.
"Eh .... Itu .... Itu .... Iyaa, aku orang Indonesia. Iya." jawabku gugup.
Entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai dia datang bertanya padaku. Ah, apa mungkin dia tahu kalau sedari tadi aku memperhatikannya ? Aku hanya sesekali mencuri pandang padanya, terlebih ada banyak orang di cafe ini. Terlalu naif jika aku berfikir seperti itu.
"Perkenalkan, aku Rizal, orang Indonesia juga sama sepertimu." katanya sambil mengulurkan tangan.
"Oh, iya Rizal, aku Diandra." aku menyambut tangannya.
bersambung ....
Lagu ini memang mempunyai kisah tersendiri bagiku. Hujan di Bulan November. Ya, kira-kira begitulah jika dialih bahasakan. Sebuah lagu yang dapat membangunkan memori yang telah lama aku pendam. Makna di dalamnya yang dapat menarikku lebih dalam. Bait-bait lagunya membawaku kembali ketika aku masih di masa kuliah dulu. Seorang lelaki yang kukagumi. Yang telah memberi warna baru di kehidupanku. Membuatku menjadi lebih dewasa seperti sekarang.
Meninggalkan kesan karakter lelaki yang sempurna sehingga aku sulit untuk lupa. Tapi, juga menjadi sesuatu yang tidak pernah aku rengkuh, hingga saat ini.
But if you could heal a broken heart
Wouldn't time be out to charm you ....
Aku melihat jam di sudut dinding yang menunjukan sekarang pukul 05:01. Sudah lebih 3 jam aku berada di sini. Macchiato-ku juga sudah tak lagi bersisa, demikian hujan yang telah reda beberapa saat yang lalu. Mungkin aku harus pulang. Pikirku. Aku mengemasi barang-barang yang tercecer di atas meja. Laptop, draft, buku, pena, kumasukkan ke dalam tas satu persatu.
"Apa kamu orang Indonesia ?" suara berat itu tertuju padaku.
Aku terkejut. Ternyata si Penyanyi yang bertanya. Dia perlahan mulai menghampiriku. Selangkah demi selangkah, dimana tiap langkahnya semakin membuatku berdebar.
"Eh .... Itu .... Itu .... Iyaa, aku orang Indonesia. Iya." jawabku gugup.
Entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai dia datang bertanya padaku. Ah, apa mungkin dia tahu kalau sedari tadi aku memperhatikannya ? Aku hanya sesekali mencuri pandang padanya, terlebih ada banyak orang di cafe ini. Terlalu naif jika aku berfikir seperti itu.
"Perkenalkan, aku Rizal, orang Indonesia juga sama sepertimu." katanya sambil mengulurkan tangan.
"Oh, iya Rizal, aku Diandra." aku menyambut tangannya.
bersambung ....

No comments
Post a Comment