Mungkin di depanmu ia hanya mampu untuk tersipu malu, tapi di hadapan Sang Pencipta ketika dua pertiga malam telah tiba, ia terang-terangan memohon agar kau menjadi Fatimah saat ia berperan sebagai Ali-nya.
Ia simpan harapannya dalam diam, untuk memperjuangkanmu dalam Ridha-Nya. Karena ia ingin mencintaimu dengan cara mulia, walau tak saling jumpa, namun tetap merasa dekat ketika ia menyebut namamu dalam doa.
Tentu juga seraya menahan rindu padamu. Namun ia harus menjaga kehormatan perasaannya, takut untuk berbuat hina, dan memilih untuk tetap tanpa nada. Terus memperbaiki diri hingga nanti akan datang kabar gembira, saat Sang Pembolak-Balik Hati memberi tanda bahwa sudah tiba waktunya.
No comments
Post a Comment