Saturday, 24 September 2016

Hujan Bulan November



Gerimis tipis menyambut hari ini. Udara yang dingin membuat orang-orang berdalih mengurungkan niat untuk pergi dan hanya berdiam diri di sudut rumah. Ya, memang suhu di kota para Gladiator amat dingin ketika hujan, terlebih untuk orang timur sepertiku yang terbiasa dengan matahari terik membakar kulit hingga terasa ke ubun-ubun. Bukan tanpa alasan aku berada di Ibu Kota Dunia, demi gelar master, aku melanjutkan studi di salah satu universitas terbaik di Negeri Pizza, la Sapienza.

Namaku Diandra. Atau panggil saja aku Dian, seorang penyuka hujan yang menemukan kedamaian ketika ia bercumbu dengan bumi. Aku sangat menikmati saat-saat hujan gerimis seperti ini. Rintiknya selalu menyejukkan. Petrichor menyembilu memori bertemu panorama arsitektur Etruska yang memekakan mata. Bulir-bulir air jatuh beradu dengan tanah membuat suara bising hujan terasa seperti alunan lagu sendu yang melahirkan suasana romantis untukku. Ah, terlalu indah hujan kali ini.

Aku masih menyesap macchiato hangat di sudut cafe itu, memandang air hujan yang berluruhan, menikmati Roma yang telah lama kuidamkan. Rasanya beruntung sekali, aku tidak mengira akan menundukkan mereka yang memiliki hasrat yang sama untuk bisa menetap di Kota Abadi ini. Aku mendapatkan beasiswa dari perusahaan swasta di Indonesia yang bersedia membiayai kuliahku. Tentu bukan hal yang mudah, bahkan sangat sulit. Mati-matian aku mendapatkannya. Mulai dari dua belas kali penolakan, hingga akhirnya mencapai statusku saat ini.

Tapi, sepertinya ada yang berbeda di cafe dari terakhir kali aku berkunjung, beberapa hari lalu. Aku baru sadar bahwa kini grup musik hadir menghidupkan suasana. Alunan nada yang dimainkan memecah keheningan. Aku menoleh melihat mereka. Tampak empat orang lelaki Asia sedang menunjukkan kebolehannya. Mataku terarah pada si Penyanyi. Rambut butch, kulit putih, mata yang sayu tersenyum pada kami para pengunjung. Agaknya mereka menikmati suasana anyar ini, bahkan ada yang ikut bernyanyi bersama. Namun, tidak denganku. Aku menggerutu. Tak sepatutnya suasana sepi yang aku sukai dari cafe ini dirusak oleh sekelompok orang yang memainkan alat musik. Aku tidak suka itu.

Aku merajuk, tidak ingin berlama-lama lagi, macchiato hangat yang masih setengah penuh, dengan cepat kuteguk. Aku memasukkan barang-barang ke dalam tas ransel dan beranjak pergi. Kekecewaan bergulir di benakku. "Tidak seharusnya mereka di cafe ini. Mereka hanya merusak suasana.", ucapku lirih. "Mungkin aku tidak akan lagi berkunjung kemari.".

****

Kuliah berakhir cepat hari ini, salah satu dosen batal hadir karena suatu hal. Aku enggan pulang, tapi tidak tahu juga harus kemana. Dosen mata kuliah Pengantar Bisnis dengan aksen spanish-nya membuatku jenuh. Aku hampir tidak mengerti sama sekali apa yang dia coba jelaskan. Rasa penat mulai menyambangi, entah kemana aku akan menuju. Aku tak tahu. "Apa ke cafe saja, menyesap macchiato hangat seperti biasanya ?". Hal itu terlintas di kepalaku. Aku berdiam sejenak, mencoba memikirkan pilihan selain cafe yang sekarang sudah tidak damai. Mengingat-ingat tempat apa saja, yang mempunyai suasana sejiwa denganku.

Hujan mulai membumi. Aku harus segera mencari tempat untuk berteduh. Tidak ada pilihan lagi selain cafe itu. Bukan karena ingin, hanya saja jaraknya yang lebih dekat dan rasa macchiato buatannya lebih enak dari cafe lain yang pernah kukunjungi, membuatku 'rujuk' dengannya. Aku berharap empat orang Asia itu tidak kembali lagi ke sana. Mereka bisa menghancurkan mood-ku.


****

Pintu cafe terbuka, pelayan menyapaku dengan ramahnya. Memang kebiasaan orang Italia dimana mereka tidak segan untuk menyapa seseorang ketika saling bertatap. Kultur ini menjadi nilai tambah tentang negara ini. Aku melayangkan pandang, mencoba mencari apakah empat orang Asia itu kembali kemari. "Sial, mereka ada di sini. Macchiato-ku tidak akan seenak biasanya", pikirku geram. Hujanpun turun deras, tidak mungkin aku mengurungkan niat dan mencari tempat lain.

Aku kembali menyesap macchiato sambil mendesah pelan karena hangatnya mulai menjalari tubuh. Hujan yang semakin derasnya menambah cita rasa minuman pahit ini. Kulihat mereka sedang menikmati penampilannya. Tidak terlalu buruk. Si Penyanyi memandang ke luar, mungkin dia khawatir akan hujan yang tak kunjung mereda. Terlihat matanya yang sayu mencoba menghayati lagu yang ia bawakan.

"Dia tampan sekali !", batinku. "Apa dia memang setampan ini ? Kenapa kemarin aku bisa tidak menyadarinya ?" Jantungku mulai berdebar.

Perlahan aku mengikuti petikan-petikan gitar, suara bass, dan dentuman drum dari lagu yang mereka bawakan. Tanpa sadar, aku ikut bernyanyi dalam hati. "Bagus sekali suaranya". Entah kenapa, aku mulai terbiasa dengan suasana cafe yang sekarang, padahal rasanya baru kemarin aku merasa terganggu dengan adanya mereka. Apa mungkin karena si Penyanyi ? Dia tampan dan bertalenta. Ah, aku tidak tahu. Tapi sungguh, aku menikmati momen ini.

"Ada yang mau request lagu?" tiba-tiba suara itu membuyarkan lamunanku.

"Request lagu ?", aku tersentak dan tertawa dalam hati. Sombong benar pemuda ini. Apa dia bisa menyanyikan semua genre lagu ? Apa dia yakin hafal semua lagu ? Kalau begitu, aku akan mengetesnya.

"November Rain ! Bisa ?", aku berseru dari sudut ruang itu. Dia menoleh, terlihat raut wajahnya yang kebingungan. Dia berbisik kepada pemain gitar di sebelahnya, entah apa yang mereka bicarakan, namun mereka terlihat serius sekali mendiskusikan sesuatu. Sebenarnya aku tidak yakin si Penyanyi bisa menyanyikan lagu ini. Aku merasa sedang mengerjainya.

bersambung ....

No comments

Post a Comment

© A Mindless Story
Maira Gall